Selasa, 30 September 2014

Muhasabah Pagi Ini

Saat saya mengumumkan nilai pada para siswa, bragam ekspresi terbang keudara, memenuhi atmosfer ruangan kelas tadi pagi. Satu siswa special needs dengan mata berbinar tanpa aksara memberi ekspresi terbahagianya, mulutnya hanya menganga tak bisa bicara pasti karena terlalu bahagia. Ada juga siswa yang nilainya sesua prediksi, tak banyak perubahan pada ekspresinya, hanya mengangguk angguk setuju. Ada juga yang terkejut tak menyangka karya nya yang selalu ia bilang jelek adalah indah dimata saya dan teman-temannya. Ada pula yang tak terima lalu komplain dengan penilaian saya. Ia yakin ia layak mendapat penilaian lebih dari itu. Namun tak berkutik saat saya tunjukkan bukti bukti dan kesesuainnya dengan standar penilaian.

....

Kelas usai. Ruangan Art saya tutup. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Kulihat satu siswa paling malas di kelas dengan wajah memelas perlahan menghanpiri saya. "Miss, bisa kah saya menyelesaikan project saya, agar setidaknya mendapat nilai sesuai stadar?".  Tertunduk ia berjalan keluar. Term ini sudah berakhir, sayangku..Ya memang sudah sangat terlambat.

....

Wajah memelas itu mengingatkan saya pada hari penghakiman nanti. Di sana kelak, kita semua adalah mereka. Kita tak punya pilihan, bahkan akan ada konsekuensi yg ah mengerikan...sungguh mengerikan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar